Diskusi Film: Menyingkap “Hantu-Hantu” Koruptif dalam Film Ghost In The Cell
Jumat, 08 Mei 2026 - Indonesia Corruption Watch (ICW) menggelar diskusi Film Ghost In The Cell. Sebagai salah satu rangkaian dari ‘Resonansi Film Day’, diskusi Film Ghost In The Cell merupakan agenda kedua setelah pemutaran dan diikuti dengan diskusi Film Pesta Babi. Sebagai bentuk apresiasi karya terhadap seniman, ICW mengundang sutradara Film Ghost In The Cell, Joko Anwar, dan para aktornya seperti Arswendy Bening Swara, Kiki Narendra, Morgan Oey. Tak hanya itu, Almas Sjafrina selaku koordinator ICW pun turut hadir sebagai narasumber. .
Sebagai pemantik diskusi, Umanitya Anggota Divisi Komunikasi Publik ICW selaku moderator memulai diskusi dengan menggali keresahan Joko Anwar hingga akhirnya dapat melahirkan karya Film Ghost In The Cell. Menurut Joko Anwar, pengalaman paling terasa pada tahun 2018 ketika membaca berita tentang koruptor kelas kakap yang dijebloskan ke penjara. Sayangnya, aksi maling duit negara tersebut tidak mendapatkan keadilan sebagaimana mestinya, tetapi malah memperoleh perlakuan istimewa. Penjara yang seharusnya menjadi tempat keadilan ditegakkan justru ketidakadilan yang lebih terasa. Pada aspek korupsi, Joko Anwar turut menyoroti korupsi sumber daya alam sebagai kasus korupsi terbesar dan memberikan dampak berupa deforestasi.
Seperti yang telah diuraikan oleh Joko Anwar, Latar Film Ghost In The Cell menggambarkan kehidupan para narapidana yang tengah menjalani masa tahanan dan mengisi hari-harinya di bawah bayang-bayang ancaman kekerasan fisik antar sesama tahanan, praktik koruptif, serta penindasan oleh pejabat lapas. Konflik dan ketegangan muncul ketika seorang narapidana baru masuk lapas, yang kemudian disusul dengan satu per satu tewas dengan cara yang mengerikan.
Melalui Film Ghost In The Cell, Almas Sjafrina memberikan pandangannya bahwa film ini berhasil mematahkan anggapan korupsi adalah isu yang berat atau susah masuk ke dalam perbincangan masyarakat. Menurutnya, Ghost In The Cell mampu mengemas isu korupsi dengan kreatif dan berhasil membuat banyak masyarakat yang tertarik untuk menonton dan mendiskusi pesan yang diangkat di dalam film.
Pembahasan soal korupsi sumber daya alam, Almas menambahkan jika korupsi jenis ini memiliki daya rusak yang luar biasa. Korupsi ini mengajarkan kita bahwa korupsi tidak hanya soal uang negara yang hilang, tetapi juga memberi dampak pada lintas generasi karena objek yang rusak yaitu lingkungan. Terlebih masyarakat di sekitar tambah menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban dari kerusakan tersebut. Seperti yang diceritakan di dalam film soal korupsi tambang nikel, pada faktanya korupsi di sektor tambang juga tidak hanya berlaku di tambang-tambang ilegal, tetapi juga banyak dijumpai pada tambang legal seperti tambang nikel. Oleh karena itu, isu korupsi sumber daya alam menjadi penting untuk didiskusikan bersama.
Bagi Arswendy, jauh sebelum adanya Film Ghost In The Cell, ia telah memiliki keresahan yang sama tentang korupsi, kesewenang-wenangan, aktivis yang dibungkam, bahkan memiliki pengalaman langsung pada saat konflik terjadi di Timor Leste. Sehingga mendapatkan peran di dalam film tersebut bukanlah hal yang sulit baginya untuk membayangkan karakter dengan figur yang ada di dunia nyata. Melalui film ini, Arswendy berharap anak muda dapat menonton dan kemudian berani untuk speak up atau membicarakan berbagai keresahan yang terjadi di negara ini tak terkecuali terkait korupsi.
Acara diskusi Film Ghost In The Cell kian menarik ketika banyak peserta yang bertanya kepada narasumber, terkait apakah tidak ada kekhawatiran jika ditinggalkan oleh penggemarnya jika karyanya dianggap less entertainment?. Bagi Joko Anwar, jika bisnis film hanya mencari keuntungan dengan cara mempertahankan fans, akan jadi sebuah profesi yang sia-sia dan akan mengkhianati the nature of profession in self. Karena film dihadirkan juga untuk membuka pikiran melalui karakter, cerita, dan harapannya penonton dapat mengikuti karakter serta mengambil nilai dari cerita dengan perspektif yang baru. Joko Anwar menambahkan bahwa pembuatan film penting dibuatkan dengan unsur urgensi, seperti keresahan kolektif yang dimiliki antara pembuatan film dengan penonton.
Pada penghujung acara, riuh peserta diskusi berada pada titik puncak setelah moderator menginformasikan adanya lelang merchandise tote bag karya kolaborasi antara Uncorrupted Store dengan seniman @thy_atelier tema Ghost In the Cell dan ditandatangani oleh aktor dan sutradara yang hadir. Melalui lelang merchandise ini, ICW memperoleh tiga pemenang yang berhak membeli merchandise sesuai dengan nominal yang dimenangkan oleh peserta.
Diskusi Film Ghost In The Cell dapat menjadi cakrawala pengetahuan baru pembahasan soal isu korupsi sumber daya alam yang dikemas dengan unsur kreatif. ICW berharap diskusi ini dapat memantik peserta untuk tertarik dan mengenali lebih dalam tentang beragam bentuk praktik korupsi sumber daya alam yang telah memberikan daya rusak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk masyarakat lokal yang ada di sekitarnya.
Penulis: Rofi'

