Diskusi Film Pesta Babi: Potret Kehancuran Ekologi di Tanah Papua Akibat Ambisi Program Strategis Nasional

Sesi diskusi Film Pesta Babi

Jumat, 08 Mei 2026 - Indonesia Corruption Watch (ICW) melalui public space-nya Resonansi, menyelenggarakan kegiatan nonton bareng dan diskusi Film Pesta Babi. Agenda ini menjadi salah satu dari bagian “Resonansi Film Day” sebuah tajuk kegiatan di Resonansi yang fokus membahas berbagai film di Indonesia. Pada episode ini, terdapat dua acara diskusi film: Pertama, nobar dan diskusi Film Pesta Babi dan acara kedua yaitu Diskusi Film Ghost In The Cell

Sejak poster Film Pesta Babi resmi dirilis oleh Koperasi Indonesia Baru melalui kanal media sosialnya, berbagai komunitas/organisasi/instansi berbondong-bondong menggelar nobar dengan skema tiket sukarela, termasuk salah satunya Resonansi. Lebih dari 70 orang mendaftar sebagai peserta nobar di Resonansi dan melakukan pembayaran tiket sukarela, sebagai bentuk dukungan kepada warga Papua dan pembuat karya film. Dari tiket tersebut, jumlah uang yang terkumpul senilai Rp. 2.160.341 dan telah diserahkan ICW kepada Koperasi Indonesia Baru. 

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, merupakan film dokumenter karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.  Secara khusus, Film Pesta Babi memperlihatkan berbagai bentuk perjuangan masyarakat adat di Papua dari ekspansi industri raksasa, yang berlindung di balik proyek PSN dengan label transisi energi dan dan ketahanan pangan. Film ini juga menampilkan perubahan ekologi di wilayah Papua yang semula hutan luas berubah menjadi area kawasan industri perkebunan tebu, sawit, hingga proyek pangan lain berskala besar.  

Gelaran diskusi Film Pesta Babi di Resonansi semakin mendalam pembahasannya dengan kehadiran tiga narasumber utama. Narasumber pertama diskusi merupakan peneliti dari internal ICW, Seira Tamara, membahas state capture corruption sekaligus kaitan korupsi dengan proyek PSN yang sedang terjadi di Papua. ICW juga mengundang narasumber lainnya  yaitu Yusuf Priambodo, salah satu penulis buku #Reset Indonesia, dengan ceritanya melakukan ekspedisi di berbagai daerah pelosok Indonesia termasuk wilayah Papua. Tak hanya itu, ICW turut mengundang aktivis Greenpeace Indonesia, Sekar Banjaran Aji, yang membahas dampak ekologis dan krisis global yang dimulai dari Papua. 

Perbincangan mengenai Film Pesta Babi dimulai dari sudut pandang Sekar, bahwa sejak awal produksi Film Pesta Babi berupaya memposisikan masyarakat lokal Papua sebagai korban dari keserakahan dan hasrat penguasaan hutan yang salah kaprah. Hak tawar masyarakat adat yang kerap kali diabaikan oleh negara dalam proyek pembangunan, hanya menyisakan penderitaan dan dampak kerusakan ekologi di sekelilingnya. 

Pembahasan soal konflik agraria, transisi energi, dan ragam proyek strategis nasional lainnya yang digalakkan oleh pemerintah pusat, kiat memperkuat legitimasi bahwa negara saat ini telah gagal melindungi warga khususnya masyarakat adat. Yusuf Priambodo pun mengamini kegagalan negara berdasarkan pengalamannya langsung melakukan ekspedisi di berbagai daerah. Contoh tingginya konflik agraria dari PSN yaitu penguasaan jutaan hektar lahan oleh salah satu perusahaan raksasa di Indonesia. Ketimpangan tersebut dapat memicu lahirnya satu kelompok yang dapat menindas kelompok lain, seperti yang telah tergambar pada Film Pesta Babi. 

Bercermin dari situasi yang sedang dialami oleh masyarakat adat di Papua, Seira Tamara turut menambahkan tentang indikasi state capture di Film Pesta Babi dapat dilihat dari peran antara aparat, elit pemerintahan, pejabat publik, dan pebisnis. Pemberangusan kekayaan alam di Papua dapat saja dengan serangkaian praktik kolusi dan persekongkolan dari kelompok tersebut. Bahkan, seperti yang ada pada Film Pesta Babi, pengusaha tersebut tidak hanya yang digambarkan background ragam usahanya, tetapi juga bagian dari pemerintahan meski tidak memiliki jabatan resmi. Hal ini karena peran strategi pengusaha sebagai suporter dan pemasok logistik elit politik yang tengah berkuasa saat ini. 

Diskusi Film Pesta Babi kian mendalam setelah peserta diskusi ikut memberikan pendapat maupun melontarkan pertanyaan kepada narasumber. Salah satu peserta berharap bahwa pemutaran dan diskusi Film Pesta Babi dapat juga dilakukan di lingkungan kampus. Sehingga semakin banyak orang yang mengetahui kejahatan negara terhadap warga di Papua. 

Melalui nobar dan diskusi Film Pesta Babi, ICW berharap pembahasan dan perjuangan untuk menyuarakan seputar Papua tidak hanya berhenti di ruang Resonansi. Setumpuk permasalahan yang telah dihasilkan dari proyek PSN dan telah memakan korban ekologis di berbagai daerah, sudah saatnya masyarakat melihat dan berani menaruh kritiknya atas program tersebut. Alih-alih mensejahterakan rakyat melalui proyek nasional, fakta yang terjadi justru masyarakat adat dipinggirkan dan alih fungsi hutan semakin terang-terangan. 

 

Penulis: Rofi'

BAGIKAN

Sahabat ICW_Pendidikan