Mengungkap Dugaan Korupsi, Guru SD Percontohan Dilarang Mengajar

Isnety S. Drajad, guru yang pernah menuding telah terjadi penyelewengan keuangan di SD Negeri Percontohan IKIP Rawamangun, akhirnya dilarang mengajar. Saras Dewi Damantra dari National Educational Watch (NEW) mengatakan, larangan mengajar itu dikeluarkan kepala sekolah sejak awal pekan ini. Sejak Senin Ibu Isnety tidak diperbolehkan lagi mengajar. Keputusannya ditandatangani kepala sekolah, kata Saras yang dihubungi lewat telepon kemarin.

Menurut Saras, larangan mengajar kepada Isnety terkait dengan pengungkapan dugaan korupsi pada Juli lalu. Seperti diwartakan, Isnety yang didampingi NEW saat itu mengungkapkan, di SD Percontohan diduga telah terjadi sejumlah penyelewengan pengelolaan keuangan. Tudingan yang dilontarkan Isnety antara lain pungutan yang memberatkan siswa, penggelembungan anggaran proyek, dan pengelolaan keuangan yang tidak terbuka.

Kepala Sekolah, Komite Sekolah, dan sejumlah guru di SD Negeri Percontohan telah membantah tudingan penyelewengan itu. Belakangan, kepala sekolah pun melaporkan Isnety ke Kepolisian Daerah Metro Jaya dengan tuduhan telah melakukan pencemaran nama baik. Di samping Isnety, yang turut dilaporkan adalah Saras Dewi dan pengurus Komite Sekolah, Nazarudin Siregar.

Isnety, menurut Saras, saat ini ditugaskan mengurusi perpustakaan sekolah. Alasan kepala sekolah, kata dia, pemindahan tugas itu demi kenyamanan bersama. Padahal, menurut Saras, layaknya guru yang telah mengajar puluhan tahun di sekolah itu, tugas utama Isnety adalah sebagai pengajar. Bukan pengurus perpustakaan, kata dia.

Menurut Saras, Isnety bahkan sempat tidak diperbolehkan masuk ke ruang kelas IIA, tempat dia biasa mengajar. Pada Selasa (7/9) lalu, menurut Saras, murid Isnety sempat diungsikan ke ruangan laboratorium bahasa di sekolah itu. Anak-anak dijauhkan dengan Bu Is dan dibawa ke ruang laboratorium, kata Saras.

Sementara itu, pihak SD Negeri Percontohan membantah telah melarang Isnety memasuki ruangan kelas untuk mengajar. Kami tidak pernah melarang Ibu Is masuk. Tapi, sejak Senin telah keluar surat keputusan yang mengatur pembagian tugas. Ibu Is ditempatkan di perpustakaan, kata Marsono, Wakil Bidang Sarana SD Percontohan.

Marsono mengakui, murid kelas IIA memang pernah dipindahkan ke ruang laboratorium Pemindahan itu, kata dia, dilakukan pada Selasa (7/9), mulai pukul 08.00 WIB. Sehari kemudian, murid-murid dikembalikan ke kelas asalnya. Namun, menurut Marsono, pemindahan murid kelas IIA itu bukan untuk menjauhkan mereka dari guru Isnety. Ruangan kelas sedang dibersihkan. Makanya dikunci. Lagi pula, kata Marsono, fasilitas di ruang laboratorium itu cukup lengkap. Ada kursi. Tidak lesehan. Jadi siapa bilang siswa ditelantarkan.

Menanggapi keputusan kepala sekolah itu, menurut Saras, sekitar 20 orangtua murid telah mengadukan nasib anaknya ke Komisi Nasional Anak. Mereka juga meminta kepala sekolah kembali mengizinkan Isnety mengajar.

Marsono membenarkan adanya perwakilan orangtua murid yang bertemu dengan kepala sekolah. Mereka menyerahkan sepucuk surat. Tapi saya tidak tahu apa isinya, kata Marsono.

Maman Achdiyat, Wakil Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI, mengatakan belum mengetahui perkembangan terakhir kemelut di sekolah percontohan itu. Seharusnya, kata dia, jika ada sanksi yang diberikan sifatnya harus proporsional dan bisa dipertanggungjawabkan.Esensinya tidak boleh berdasarkan selera pribadi, tapi harus berdasarkan aturan, kata Maman saat dihubungi lewat telepon.

Menurut Maman, jika seorang guru dianggap telah melakukan pelanggaran sekalipun, tetap ada aturan main dalam menjatuhkan sanksi. Namun, Maman mengaku belum bisa menyikapi kasus itu. Pasalnya, dia belum mendengar keterangan dari kedua pihak. Harus dilihat dulu apakah langkah-langkah sesuai peraturan sudah dilakukan atau belum, kata dia. muhamad fasabeni

Sumber: Koran Tempo, 11 September 2004