Korupsi Pasar Kadungora Diperiksa

Kepolisian Wilayah Priangan, Jawa Barat, mulai memeriksa sejumlah saksi atas tuduhan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan dan pengelolaan Pasar Kadungora, Blok Gegerjunti, Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut. Pasar itu dibangun PT Usindo dengan dana yang di antara, senilai Rp 1,4 miliar, diperoleh dari Pemerintah Kabupaten Garut.

Kami masih terus memeriksa beberapa saksi pada kasus dugaan korupsi tersebut, kata Kelapa Kepolisian Wilayah (Polwil) Priangan Komisaris Besar Sudaryanto, Minggu (16/1). Namun, Sudaryanto belum bersedia menjelaskan lebih jauh siapa saja saksi yang telah diperiksa berkaitan dengan kasus dugaan korupsi tersebut.

Sedangkan mantan Kepala Dinas Pasar Kabupaten Garut Agus Kustiaman mengaku Polwil Priangan telah memanggil dan memeriksa dirinya sehubungan dengan kasus tersebut. Saya memang sudah menjalani pemeriksaan seputar kasus Pasar Kadungora di Polwil Priangan pada 6 Januari 2005, kata Agus Kustiaman.

Agus Kustiaman menjelaskan, pihaknya pernah membayar Rp 720 juta sebagai biaya kompensasi atas kerugian dan tidak lakunya beberapa kios di Pasar Kadungora kepada PT Usindo. Bahkan, lanjut Agus, pada awalnya PT Usindo meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut membayar kompensasi kerugian tersebut senilai Rp 1,6 miliar.

Menurut dia, sejumlah uang untuk pembayaran tersebut berasal dari pos pembayaran utang pokok jatuh tempo Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2004. Saat itu, pembayaran dilakukan bulan Agustus 2004, kata Agus Kustiaman lebih lanjut.

Menurut Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut Lucky Lukmansyah, jika benar Pemkab Garut telah membayar sejumlah uang kepada PT Usindo sebagai kompensasi, maka pihaknya menilai pemkab telah melanggar perjanjian.

Tidak perlu membayar
Lucky menyebutkan, dalam perjanjian telah disepakati bahwa bangunan dan tanah Pasar Kadungora menjadi milik Pemkab Garut setelah pembangunan selesai. Menurut saya, pemkab tidak perlu membayar lagi uang sepeser pun ke pihak pengembang. Kemungkinan DPRD juga akan segera mempertanyakan duduk perkara Pasar Kadungora, katanya tegas.

Pembangunan Pasar Kadungora yang dilakukan oleh PT Usindo, berdasarkan Surat Perjanjian dengan kop surat Bupati Garut Nomor: 573/Perj.379-Huk/94 mengenai kerja sama antara Pemkab Garut dan PT Usindo dalam pembangunan pasar dan subterminal Kadungora, Kabupaten Garut.

Perjanjian ditandatangani oleh Bupati Garut, saat itu, Toharudin Gani, dan Direktur Utama PT Usindo Sucherli.

Dalam surat perjanjian itu disebutkan biaya pembangunan pasar senilai Rp 2,673 miliar dengan luas 10.936 meter persegi. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 1,4 miliar berasal dari Pemkab Garut. Dalam perjanjian itu juga disebutkan bahwa pembangunan Pasar Kadungora telah diselesaikan pengembang dalam waktu 180 hari dari 28 Oktober 1994 hingga 27 April 1995. Pada saat itu, sesuai perjanjian, PT Usindo membangun sekitar 600 kios, bangunan kantor pasar, serta beberapa fasilitas pasar.

Sudah rusak
Hingga Sabtu (15/1), kondisi Pasar Kadungora sudah rusak. Jalan di dalam pasar tersebut becek dan tidak terawat. Begitu juga dengan beberapa bagian bangunan pasar sudah rusak dan tidak layak pakai.

Beberapa kios sudah ditinggalkan pedagangnya, sementara puluhan kios lainnya kosong karena tidak laku. Bahkan, beberapa pedagang menyayangkan bahwa Pasar Kadungora tidak dilengkapi dengan fasilitas terminal dan akses jalan di dalam pasar.

Setelah jadi, pasar ini tidak seperti dalam gambar dan peta yang dipasang saat pembangunan sepuluh tahun yang lalu, kata Entis, seorang pedagang kelapa yang masih bertahan sejak tahun 1995.

Pedagang lainnya juga mengeluhkan belum direalisasikannya terminal yang berlokasi di belakang pasar tersebut. Tanpa itu, tidak akan ada akses terhadap angkutan umum. Pembangunan terminal untuk angkot dari pasar ini pun atas desakan pedagang sekitar tiga tahun lalu, ujar Entis menjelaskan.

Puluhan pedagang memilih untuk pergi atau menggelar dagangannya di bagian depan pasar. Hal tersebut mengakibatkan penumpukan pedagang di bagian depan pasar.

Selain itu, halaman parkir dan jalan terminal pasar tersebut sudah rusak. Bahkan, jalan menuju ke pasar itu juga sudah bergelombang dan berlubang. (AYS)

Sumber: Kompas, 17 Januari 2005