Eddy Tansil Jadi Target Lagi

Apa benar dia tak mengganti namanya?

Tim Pemburu Koruptor--regu gabungan Kejaksaan Agung, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, serta kepolisian--menyatakan akan segera melacak kembali Eddy Tansil. Langkah ini dilakukan setelah buron pembobol Bank Bapindo senilai Rp 1,3 triliun pada 1993 itu (dengan kurs dolar sekarang, nilainya setara sekitar Rp 5,5 triliun) ternyata melakukan pengiriman uang ke Indonesia tahun lalu.

Ketua Tim Pemburu Koruptor Muchtar Arifin mengatakan mereka akan memburu dengan mencari tahu siapa yang menerima kucuran uang itu. Pertama, kita akan secepatnya berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), ujarnya kemarin.

Kabar bahwa Eddy Tansil dua kali mengirim uang ke Indonesia itu diungkap oleh PPATK berdasarkan laporan lembaga analisis transaksi keuangan Australia. Direktur Hukum PPATK I Ketut Sudiharsa, Sabtu lalu di Bogor, mengatakan, Kami juga kaget mendengar kabar itu (dari Australia) karena bisa lolos dari pantauan.

Sudiharsa menjelaskan pergerakan dana pemilik Golden Key Group ini sangat cepat sehingga mereka sulit menjejaki aliran dananya. PPATK juga tidak bisa memblokir pengiriman uang ini karena tidak memiliki kewenangan. Kami hanya bisa merekomendasikan pemblokiran ke aparat penegak hukum. Keputusannya ada di tangan mereka, ujarnya.

Humprey R. Djemat, yang dulu ikut sebagai anggota tim kuasa hukum Tansil, ragu mantan kliennya itu telah mentransfer uang. Apa benar itu Eddy Tansil? Apa dia masih pakai nama itu? katanya kepada Tempo kemarin.

Dia menduga, sebagai buron, pasti Tansil telah mengganti namanya. Dia berharap PPATK bisa mengungkap data-data lebih detail agar masyarakat tidak menduga-duga. Humprey, yang kini memimpin kantor law firm Gani Djemat & Partners, menegaskan, sejak Tansil jadi buron, kantornya tidak lagi menjadi pengacaranya.

Kasus Eddy Tansil dan Bapindo menjadi perhatian utama Indonesia pada tahun-tahun kekuasaan Soeharto. Skandal ini juga membuat kosakata kolusi menjadi akrab bagi telinga orang awam Indonesia.

Saat itu Golden Key Group, yang dipimpin Eddy Tansil, mendapat kredit Rp 1,3 triliun dari Bapindo, bank yang sekarang menyatu dalam Bank Mandiri. Laksamana Sudomo, seorang menteri di era Soeharto, menulis surat kepada Bapindo agar kredit bisa lancar. Sudomo sempat dijadikan saksi dalam persidangan. Hutomo Mandala Putra tercatat pernah memiliki saham di perusahaan petrokimia itu, tapi sahamnya dijual kembali kepada Tansil.

Dalam permohonannya, Tansil menyatakan uang itu akan digunakan membangun pabrik petrokimia. Tapi belakangan pabrik itu ternyata tidak pernah berdiri. Jaksa menyatakan sebagian uang dari Bapindo digunakan keluarganya membeli tanah, rumah, sampai mobil pribadi.

Pengadilan memberi Tansil vonis 20 tahun penjara. Tapi, pada 1996, Tansil kabur dari penjara Cipinang. Sejak itu Tansil seperti lenyap ditelan bumi. Sempat muncul kabar ia bersembunyi di Cina, tapi hal itu tidak bisa dikonfirmasikan. EKO NOPIANSYAH | SANDY INDRA PRATAMA | AGUS SUPRIYANTO

Sumber: Koran Tempo, 29 Oktober 2007

Berita Terkait